Ironi Pegasus: Politisi Penyelidik Kasus Spyware Justru Jadi Korban Penyadapan
Seorang politisi yang menyelidiki penyalahgunaan spyware justru diretas oleh Pegasus. Simak bedah biaya operasional miliaran rupiah di balik peretasan ini.
Ironi besar menghantam dunia keamanan siber pada Juli 2026 setelah seorang politisi yang vokal menyelidiki penyalahgunaan spyware mendapati ponselnya sendiri telah diretas oleh Pegasus. Insiden memalukan ini membuktikan bahwa perangkat pengintai kelas militer buatan NSO Group masih bebas beroperasi menargetkan pejabat publik dan penegak hukum tanpa hambatan berarti.
Politisi tersebut sebelumnya memimpin komite investigasi yang gencar menyoroti penyalahgunaan alat sadap komersial oleh berbagai otoritas negara. Namun, temuan forensik digital mengonfirmasi bahwa perangkat selulernya telah disusupi oleh malware Pegasus melalui celah kerentanan tingkat lanjut (zero-click). Celah ini memungkinkan peretas mengambil alih kendali penuh atas mikrofon, kamera, dan seluruh data terenkripsi di dalam OS iOS maupun Android, tanpa mengharuskan target mengklik tautan apa pun.
Bedah Angka: Mahalnya Tarif Lisensi dan Senjata "Zero-Click"
Peretasan siber tingkat tinggi ini bukanlah operasi murah yang bisa dilakukan oleh peretas amatir atau lembaga kecil. Pegasus adalah senjata intelijen komersial dengan struktur harga yang dirancang khusus untuk kantong negara (state-actor). Berikut rincian biayanya:
- Biaya Instalasi Awal (Setup Fee): NSO Group secara historis mematok tarif dasar instalasi infrastruktur Pegasus di kisaran $500.000 (sekitar Rp8,1 Miliar) hanya untuk biaya pengerahan awal perangkat keras dan perangkat lunaknya.
- Tarif Per Target Penyadapan: Biaya operasional untuk memantau target spesifik sangatlah mahal. Lisensi untuk menyadap 10 perangkat ponsel cerdas secara bersamaan dapat menelan biaya tambahan sebesar $650.000 (sekitar Rp10,5 Miliar), belum termasuk biaya pemeliharaan tahunan sebesar 17% dari nilai kontrak.
- Inflasi Pasar Gelap Zero-Day: Untuk memastikan senjata zero-click mereka tetap berfungsi melawan pembaruan keamanan terbaru Apple atau Google, perusahaan intelijen harus rutin membeli eksploitasi celah keamanan (zero-day) dari broker pasar gelap, yang saat ini harganya bisa menembus $2 Juta hingga $3 Juta (Rp32-48 Miliar) per kode peretasan.
Objektivitas Dampak: Intelijen Vital vs Matinya Privasi Demokrasi
Dari sudut pandang agensi intelijen nasional dan kontraktor pertahanan, eksistensi alat sadap komersial seperti Pegasus dipertahankan karena perannya yang sangat vital. Kemampuan stealth (tak kasat mata) yang ditawarkannya sering kali menjadi satu-satunya cara jitu untuk membongkar jaringan terorisme, perdagangan manusia, dan kejahatan terorganisir yang selalu berlindung di balik teknologi enkripsi modern.
Namun, fakta bahwa seorang politisi penyelidik bisa menjadi korban langsung membuktikan betapa berbahayanya penyalahgunaan teknologi ini bagi tatanan demokrasi. Kejadian ini menegaskan bahwa regulasi ekspor dan pakta kontrol senjata siber global saat ini gagal total. Selama instrumen peretasan bernilai jutaan dolar ini masih diperjualbelikan dengan pengawasan independen yang minim, klaim perusahaan bahwa alat mereka "hanya digunakan untuk menangkap kriminal" belumlah menjadi kemenangan mutlak. Kasus ini menjadi alarm keras bahwa tidak ada figur publik yang benar-benar kebal dari intaian mesin kapitalisme pengawasan siber.